DJALAN SAMPOERNA
Rp 0
Penulis : Soetjipto
Tebal : 258 halaman
Dimensi : 14 x 21 cm
Berat : 350 gram
ISBN : –
Deskripsi
PADA 1938, Residen Batavia yang juga bertindak sebagai Gubernur Jawa Barat, Fievez de Malinez van Ginkel, tertangkap basah tengah mengikuti pesta seks bersama pria-pria muda bumiputra di sebuah hotel Tionghoa di Bandung. Belakangan diketahui, Fievez juga mempunyai dua wanita simpanan dan mengoleksi film-film porno yang dibintanginya sendiri. Aib sang residen sempat menjadi perbincangan setelah dilontarkan Mohammad Hoesni Thamrin di sidang Volksraad. Pemerintah yang merasa malu akhirnya memecat Fievez dengan tidak hormat.
Tak berhenti di situ. Berlandaskan Pasal 292 Wetboek van Strafrecht atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Hindia Belanda yang melarang hubungan sesama jenis dengan pria di bawah umur 21 tahun, polisi kemudian melakukan operasi besar-besaran di sejumlah kota. Hasilnya, sebanyak 223 pria yang dituduh melanggar ketentuan pasal tersebut ditangkap. Mereka sebagian besar orang Eropa, termasuk tokoh-tokoh terkemuka seperti seniman Jerman yang bermukim di Bali, Walter Spies, dan filolog cum orientalis Belanda, Roelof Goris.
Meski operasi pembersihan yang dikenal sebagai skandal asusila (zedenscandaal) itu dilakukan secara sistematis dan masif, toh ada yang lolos juga. Salah satunya Soetjipto, pria yang menyebut diri keturunan priayi rendahan dari Jawa Timur. Suatu Ketika, ia menuliskan kisah hidupnya yang ganjil sebagai pria dengan hasrat seksual terhadap sesama pria. Bertahun-tahun kemudian, manuskrip Soetjipto menjadi koleksi Museum Nasional dengan kode ML 512 dan ML 524 di seksi Kategori Manuskrip Melayu, berdasarkan katalogisasi Indonesische Handschriften yang disusun oleh Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka.
Manuskrip setebal 460 halaman yang diberi judul Djalan Sampoerna itu konon kali pertama ditemukan oleh Ulrich Kratz, seorang peneliti sastra dari University of London pada 1970-an. Tahun 1989, naskah berbahasa Melayu Pasar dan Jawa Timuran tersebut ditulis ulang oleh Amen Budiman menggunakan ejaan yang disempurnakan. Tiga tahun kemudian, naskah suntingan Amen diterbitkan oleh Penerbit Apresiasi Gay Jakarta dengan judul: Jalan Hidupku, Autobiografi Seorang Gay Priyayi Jawa Awal Abad XX. Namun, upaya penerbitan itu berbuah pelarangan. Kejaksaan menganggap isinya tak bermoral dan melanggar kesusilaan. Terlepas dari kontroversi, manuskrip Soetjipto memiliki nilai penting. Ia, sependek pengetahuan Amen Budiman, merupakan satu-satunya naskah autobiografi atau memoar homoseksual dalam koleksi naskah Nusantara. Indonesianis Ben Anderson bahkan menyebutnya sebagai autobiografi terperinci pertama yang ditulis oleh seorang gay Indonesia.
Anda harus login untuk mengirimkan ulasan.
Ulasan
Belum ada ulasan.