Foto : Lomba balap karung pada masa lalu
Merunut Akar Perayaan Kemerdekaan
Oleh Rukardi
Tujuh belas Agustus biasa dirayakan dengan upacara, pentas seni, dan lomba-lomba. Sesungguhnya, sejak kapan perayaan itu ada? Benarkah ia mengadopsi bentuk perayaan Kemerdekaan Belanda?
RATUSAN orang melintas di Jalan Pegangsaan Timur dalam barisan amburadul. Seorang pemuda bertopi dan bercelana pendek memimpin di depan. Ia yang mengenakan sepatu dengan kaus kaki sedengkul membawa tongkat yang di pucuknya terikat sang Dwi Warna. Beberapa meter di belakangnya, dua pemuda bertelanjang kaki membentang kain bertuliskan “Sekali merdeka, tetap merdeka!” Di tepi jalan, di halaman rumah bernomor 56, seorang lelaki berpeci hitam menyambut arak-arakan dengan sikap menghormat. Ia Sukarno, lelaki yang baru beberapa jam ditunjuk menjadi Presiden Republik Indonesia.
Arak-arakan yang direkam Alex atau Frans Mendur pada Sabtu, 18 Agustus 1945 itu bentuk perayaaan kemerdekaan Indonesia. Ia wujud kegembiraan rakyat atas proklamasi yang dibacakan Sukarno-Hatta sehari sebelumnya. Pada masa kemudian, arak-arakan menjadi semacam acara wajib dalam setiap perayaan ulang tahun kemerdekaan. Wujudnya lebih tertata dalam format defile pasukan dan pawai umum di jalanan. Selain itu kita mengenal upacara bendera, pentas seni, dan lomba-lomba. Namun tak seperti pawai dan upacara bendera, pentas seni dan aneka lomba tidak serta merta ada sesaat setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Acara-acara itu dan bentuk kegiatan lainnya baru muncul pada peringatan ulang tahun kemerdekaan yang pertama. Agar lebih gamblang, mari kita telusuri peringatan dan perayaan ulang tahun RI pada masa awal kemerdekaan.
Majalah Pantja Raja, 1 September 1946, seperti dikutip Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia II, menggambarkan peringatan pertama kemerdekaan dirayakan dengan meriah oleh segenap lapisan dan golongan penduduk Indonesia. Rumah-rumah dan gedung dihias dengan janur kuning dan rupa-rupa dedaunan. Meski demikian, di luar daerah kantong Republik, perayaan dilakukan lebih sederhana akibat larangan Tentara Sekutu.
Di Ibu Kota Revolusi, Yogyakarta, satu tahun Republik Indonesia diperingati besar-besaran. Ketua panitia, yang juga Sekretaris Negara Mr. A.G. Pringgodigdo mempersiapkan rangkaian acara dengan seksama. Selain upacara, juga digelar parade tentara dan laskar di Alun-alun Utara, serta resepsi di Istana Negara. Upacara dihadiri Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Pakualam VIII, Paku Buwono XII, Mangkunegara VIII, Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan sekitar 500 tamu undangan. Tepat pada detik-detik proklamasi, sirine dibunyikan selama satu menit. Hadirin pun khusyuk mengheningkan cipta. Adapun parade yang digelar pada sore hari, seperti dilaporkan Kedaulatan Rakjat, disaksikan ribuan orang. Akibatnya, Alun-alun Utara berubah menjadi lautan manusia.
Masih di Yogyakarta, peringatan satu tahun RI juga ditandai dengan peresmian Bank Negara Indonesia, pembukaan hubungan radio telefoni antara Jawa dengan Sumatera, peresmian jembatan, serta pemberian santunan kepada fakir miskin dan para pejuang di front terdepan. Perayaan makin meriah dengan adanya pameran pertanian dan perburuhan di kantor Gasbi, pemutaran film peringatan proklamasi kemerdekaan di gedung bioskop Indra, dan pameran kedirgantaraan oleh Angkatan Udara di Hotel Tugu. Menarik, panitia menjual karcis undian untuk pengunjung pameran kedirgantaraan dengan hadiah naik pesawat AU mengelilingi langit Yogyakarta. Acara lain? Gerak jalan, arak-arakan, dan lari maraton.
Tak kalah dengan di Yogyakarta, di Kedu, satu tahun kemerdekaan diperingati dengan perlombaan olahraga, pameran lukisan, pemutaran film, pentas sandiwara, nyanyian, ketoprak, dan lain-lain. Pemerintah republik setempat bersama warga membangun gapura-gapura di penjuru kota. Mereka juga memperbaiki rumah-rumah, warung, dan hotel.
Di luar kantong Republik, peringatan kemerdekaan pada 17 Agustus 1946 berlangsung dalam suasana mencekam. Di Jakarta, misalnya, polisi dan tentara Inggris berusaha menghalangi orang-orang yang hendak mengikuti perayaan di rumah Menteri Luar Negeri Sutan Sjahrir. Namun upaya itu tak berhasil. Warga, termasuk rombongan pelajar putri yang dipimpin Menteri Sosial Maria Ulfah Santoso berhasil masuk. Esoknya, mereka bahkan meresmikan Tugu Peringatan Satoe Tahoen Republik Indonesia di Pegangsaan Timur 56. Di Bandung, peringatan dilakukan para gerilyawan Republik di medan pertempuran. Mereka menaikkan bendera merah putih di daerah-daerah yang dikuasai. Untuk menyaingi, pada hari yang sama, Sekutu menggelar peringatan penyerahan Jepang kepada mereka di tengah kota.
Ulang tahun pertama proklamasi juga digelar di New York. Inisiatornya Perserikatan Indonesia yang diketuai John Ando. Dalam perayaan itu, John membacakan surat Sjahrir kepada Presiden Truman. Ia mengecam tindakan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat yang menyembunyikan surat itu.
Peringatan dalam suasana darurat terus berlangsung hingga 1949. Masa yang diwarnai perundingan dan peperangan itu tak memberi keleluasaan kepada rakyat untuk merayakan proklamasi kemerdekaan. Tentara Sekutu tegas melarang peringatan dan perayaan kemerdekaan RI di wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Di Kota Semarang, misalnya, warga tak mau mengambil risiko. Hoeri Prasetyo (89), mantan anggota Barisan Pemberontak Republik Indonesia (Bapri) dan Angkatan Pelajar Indonesia (API) menuturkan, penduduk takut terhadap ancaman Sekutu.
“Jangankan di dalam Kota Semarang, di luar garis demarkasi seperti di Rowosari saja orang masih umpet-umpetan mengibarkan bendera Merah Putih,” ujar pelaku Pertempuran Lima Hari di Semarang dan perang gerilya melawan Sekutu itu.
Kebebasan baru terjadi pascapenyerahan kedaulatan RI pada 1949. Seperti keran yang terbuka setelah sekian lama mampet, masyarakat memperingati HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1950 dengan gegap-gempita. Di Semarang, perayaan dilakukan selama empat hari, mulai tanggal 16 hingga 19 Agustus, dengan agenda acara yang padat. Suara Merdeka edisi 16 Agustus 1950 menyajikan agenda tersebut secara lengkap, mulai dari rapat umum, pemutaran film, doa dan ibadah bersama, renungan, aneka lomba, pentas seni, pemberian santunan, pawai, resepsi, peresmian taman makam pahlawan, penerbangan pesawat Garuda Indonesia di langit kota, hingga pemakaman kembali 17 jenazah pelaku Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Rapat umum di alun-alun diawali uraian kisah perjuangan kemerdekaan selama lima tahun, serta sambutan perwakilan pemerintah, buruh, tani, pemuda, dan wanita. Pukul 9.50, sirine, beduk, lonceng, peluit kereta api dibunyikan untuk mengenang detik-detik proklamasi. Setelah itu diikuti pembacaan teks proklamasi, mengheningkan cipta, dan pengibaran bendera diiringi lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.
Sedangkan perlombaan meliputi sepak bola ketentaraan seluruh Jawa Tengah di Stadion, lomba dayung dan layar di pelabuhan,serta lomba estafet, mengarang, dan menggambar antarsiswa sekolah lanjutan. Ada juga lomba menghias etalase toko, kendaraan, dan gapura. Hadiah untuk para pemenang lomba diserahkan di Balai Kota. Turut mendapat hadiah, bayi yang lahir tepat pada 17 Agustus 1950.
Jongkie Tio (75) masih megingat dengan baik perayaan kemerdekaan tahun 1950. Saat itu, dokumentator dan Pemilik Restoran Semarang tersebut melihat langsung pawai yang melintas di Bodjongstraat (sekarang Jalan Pemuda). Pawai diikuti semua golongan, tak terkecuali warga keturunan Tionghoa. Mereka memainkan kesenian liong samsi dan barongsai.
“Papah saya membentangkan tali dari depan tokonya, Semarang Stores, ke toko roti Hoogvelt di seberang jalan. Di tengah tali diikatkan banyak angpau. Pemain barongsai dan liong melompat, mengambil angpau-angpau itu,” tutur Jongkie Tio.
Ayah Jongkie juga ikut lomba menghias etalase toko. Agar lebih menarik, dia menyelipkan huruf dan tulisan tertentu di sela-sela hiasan. Pengunjung diminta menebak huruf dan tulisan yang tertutup itu. Jika benar, akan mendapat hadiah berupa barang.
“Pada tahun-tahun berikutnya, perayaan 17 Agustus tambah meriah. Aneka lomba digelar di kampung-kampung, dari panjat pinang, balap karung, sampai makan kerupuk. Di Kali Semarang ada lomba perang bantal di atas bambu. Yang kalah nyemplung ke sungai.”
Bentuk perayaan 17 Agustus, sangat mungkin mengadaptasi perayaan masa kolonial, terutama ulang tahun Ratu dan hari kemerdekaan Belanda. Namun dari sisi semangat keduanya saling berlawanan. Menarik, bentuk kegiatan dalam perayaan-perayaan itu, beberapa masih lestari hingga sekarang, seperti pawai, upacara militer, dan panjat pinang.
Sementara itu, peringatan kemerdekaan dalam bentuk lain dilakukan oleh awak media. Menarik, waktu peringatan tidak dalam kelipatan tahun, tapi hitungan enam bulan. Itulah ulah kreatif sekaligus berani yang ditunjukkan oleh para wartawan harian Merdeka. B.M. Diah, Rosihan Anwar, R.M. Winarno, Moh. Soepardi, Soetomo, Darmawidjaja, Mendur bersaudara, dan kawan-kawan, pada 17 Februari 1946 menerbitkan edisi khusus bertajuk “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia”.
Penerbitan ini digarap dengan matang. Sampulnya berupa ilustrasi yang menggambarkan kepalan tangan di antara kobaran api berlatar bola bumi dengan deretan kepulauan Indonesia yang membiaskan cahaya. Di bagian bawah sampul itu tertulis kata “merdeka” yang seluruhnya menggunakan huruf kapital.
Keistimewaan penerbitan khusus ini terletak pada kata sambutan dan tulisan tokoh-tokoh republik terkemuka: Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Pakualam VIII, Paku Buwono XII, Mangkunegoro VIII, Mr. Kasman Singodimedjo, dan sejumlah pejabat republik lainnya. Penerbitan dilengkapi tulisan wartawan pejuang seperti B.M. Diah, Rosihan Anwar, Adinegoro, Manai Sophiaan, dan Parada Harahap.
Namun satu hal yang tak kalah istimewa adalah kekayaan foto di dalamnya. Ada foto diri para pemimpin revolusi, raja-raja Jawa penyokong republik, serta anggota kabinet pertama dan kedua. Ada pula foto-foto dokumentasi peristiwa penting selama enam bulan terakhir. Dari seluruh foto, dua di antaranya punya nilai sangat penting. Itulah foto detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada 17 Agustus 1945.
Foto-foto karya Soemarto Frans Mendur yang kelak banyak dicetak di buku sejarah tersebut, merupakan dokumentasi satu-satunya atas peristiwa proklamasi. Foto-foto itu diselamatkan Frans dari tentara Jepang dengan cara ditimbun di dalam tanah, di halaman belakang kantor redaksi harian Asia Raja, tempatnya bekerja. Foto-foto Frans menjadi bukti sahih bahwa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia benar-benar ada, bukan isapan jempol belaka. Nah, di “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia” inilah foto-foto proklamasi diterbitkan untuk kali pertama.
Lalu, apa makna penting dari peringatan enam bulan itu? BM Diah dalam tulisan pengantar mengatakan, enam bulan bukan waktu yang lama bagi perjalanan sebuah bangsa, tapi bagi Republik Indonesia punya makna penting. Kurun waktu singkat yang penuh ujian berat itu sangat menentukan arah perjalanan bangsa ke depan. Dan republik muda itu telah sanggup melaluinya. Senada, Presiden Sukarno menganggap perjuangan selama enam bulan pertama telah menorehkan hasil yang baik: Republik Indonesia mulai mendapat pengakuan masyarakat internasional. Namun ia juga mengingatkan pentingnya persatuan nasional sebagai syarat mencapai tujuan perjuangan. “Bersatoelah berdiri dibelakang pemerintah… saat-saat sekarang ini adalah saat jang menentoekan nasib bangsa kita boeat ratoesan tahoen: Oogen blijkken, die het lot van eeuwen beheersen!”